Apa itu Syiah?? | KAJIAN ISLAM

Pengertian SYIAH


۞ SYIAH ۞

Makna kata Syi’ah menurut bahasa adalah: golongan.
Allah Swt berfirman,
وَدَخَلَ الْمَدِينَةَ عَلَى حِينِ غَعْلَةٍ مِنْ أَهْلِهَا فَوَجَدَ فِيهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلَانِ هَذَا مِنْ شِيعَت هِ وَهَذَا مِنْ عَدُ وِه فَاسْتغََاثَهُ الَّذِي مِنْ شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُ وِهِ
“Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang ber- kelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir’aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya”. (Qs. Al-Qashash [28]: 15).
Ketika terjadi konflik antara golongan Ali dengan golongan Mu’awiyah, konflik itu berakhir dengan at-Tahkim (arbitrasi), namum gagal. Sejumlah pasukan Ali keluar, mereka disebut dengan Khawarij. Sedangkan yang bertahan disebut dengan Syi’ah Ali (golongan Ali)320. Namun hanya sekedar dukungan politik, tidak ada perbedaan dalam masalah ‘Aqidah, karena Imam Ali menyatakan sendiri keutamaan Abu Bakar dan Umar ketika ia ditanya tentang itu,
عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَنَعِيَّةِ قَالَ قُلْتُ لِأَبِي أيَُّ النَّاسِ خَيْرٌ بَعْدَ رَسُولِ اللََِّّ صَلَّى اللََُّّ عَلَيْ هِ وَسَلَّمَ قَالَ أَبُو بَكْرٍ قُلْتُ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ عُمَرُ
وَخَشِيتُ أَنْ يَقُولَ عُثْمَانُ قُلْتُ ثُمَّ أنَْتَ قَالَ مَا أنََا إِلَّا رَجُلٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ
Dari Muhammad bin al-Hanafiyyah, ia berkata, “Saya katakan kepada Bapak saya, ‘Siapakah manusia yang lebih baik setelah Rasulullah?’. Ali menjawab, ‘Abu Bakar’. Saya katakan, ‘Kemudian siapa?’. Ali menjawab, ‘Umar’. Saya khawatir ia menyebut Utsman. Saya katakan, ‘Lalu engkau?’. Ali menjawab, ‘Aku hanyalah salah seorang dari kaum muslimin’. (HR. al-Bukhari).
Perkembangan Syi’ah Setelah Ali Wafat.
Setelah Imam Ali meninggal dunia, Syi’ah terpecah menjadi beberapa kelompok:
Pertama, kelompok yang berkeyakinan bahwa Imam Ali tidak mati, Imam Ali tetap hidup untuk menegakkan keadilan di dunia. Embrio kelompok ini telah ada ketika Imam Ali masih hidup, berkembang setelah kematian Imam Ali. Seorang ulama Syi’ah bernama al-Hasan bin Musa an-Naubakhti menyebutkan dalam Firaq asy-Syi’ah,
وحكى جماعة من أهل العلم من أصحاب علي عليه السلام : أن عبدالله بن سبأ كان يهوديا فأسلم، ووالى عليا عليه – – -النبي صلى الله عليه وسلم بمثل ذلك، وهو أول من أظهر القول بعرض إمامة علي عليه السلام وأظهر البراءة من أعدائه، – –
وكاشف مخالعيه فمن هناك قال من خالف الشيعة: إن أصل الرفض مأخوذ من اليهودية
Diriwayatkan oleh sekelompok ulama dari para sahabat Imam Ali –‘Alaihissalam-, sesungguhnya Abdullah bin Saba’ seorang Yahudi, lalu masuk Islam dan berkomitmen mendukung Imam Ali. Ketika masih Yahudi, ia mengatakan bahwa Yusya’ bin Nun pelanjut Nabi Musa as. Setelah masuk Islam, ia menyatakan kalimat yang sama, Ali pelanjut nabi Muhammad Saw. Abdullah bin Saba’ orang pertama yang mewajibkan keimaman Ali. Abdullah bin Saba’ juga yang menyatakan Imam Ali telah berlepas diri dan menyingkap musuh-musuhnya, berdasarkan itu maka orang-orang yang menentang Syi’ah menyatakan bahwa asal Syi’ah Rafidhah diambil dari Yahudi..
Kedua, kelompok yang berpendapat bahwa setelah Imam Ali wafat, penggantinya adalah Muhammad bin Al-Hanafiyyah, karena ia yang dipercaya membawa panji Imam Ali dalam peperangan di Bashrah. Mereka mengkafirkan semua yang menolak keimaman Ali. Mereka juga mengkafirkan orang-orang yang ikut perang Shiffin dan perang Jamal melawan Ali. Mereka disebut al-Kaisaniyyah.
Ketiga, kelompok ini meyakini bahwa setelah Imam Ali wafat, keimaman berpindah ke al-Hasan. Setelah al-Hasan menyerahkan khilafah kepada Mu’awiyah, maka keimaman berpindah ke al-Husain. Namun mereka juga tidak sependapat, sebagian mereka berpendapat bahwa setelah al-Hasan, keimaman berpindah ke al-Hasan bin al-Hasan yang bergelar ar-Ridha. Perselisihan internal di kalangan Syi’ah ini membuktikan bahwa keimaman itu tidak seperti yang mereka nyatakan bahwa nabi Muhammad Saw sudah menuliskan secara teks.
Syi’ah Rafidhah.
Kata rafidhah الرافضة diambil dari kata rafadha. Rafidhah diambil dari ucapan Imam Zaid bin Ali,
وكان زيد بن على يعضل على بن ابى طالب على سائر اصحاب رسول الله ويتولى ابا بكر وعمر ويرى الخرو على أيمة
الجور فلما ظهر بالكوفة في اصحابه الذين بايعوه سما من بعضهم الطعن على ابى بكر وعمر فأنكر ذلك على من سمعه منه
فتعرق عنه الذين بايعوه فقال لهم رفضتموني فيقال انهم سموا الرافضة لقول زيد لهم رفضتموني
Imam Zaid bin Ali lebih mengutamakan Imam Ali daripada para shahabat Rasulullah Saw yang lain, tapi beliau tetap berkomitmen kepada Abu Bakar dan Umar, ia juga berpendapat wajib melawan pemimpin yang jahat. Ketika di Kufah muncul para sahabat yang membai’atnya, ia mendengar sebagian dari mereka mencela Abu Bakar dan Umar. Imam Zaid mengingkari perbuatan mereka itu. Maka orang-orang yang membai’atnya pun terpecah. Imam Zaid berkata kepada mereka, “Rafadhtumuni (kalian menolak aku)”. Maka dikatakan, mereka disebut Syi’ah Rafidhah, karena ucapan Imam Zaid kepada mereka, ‘Rafadhtumuni (kalian menolak aku)’323.
Imam Syafi’i mendefinisikan Rafidhah sebagai,
ومن قال: إن أبا بكر وعمر ليسا بإمامين، فهو رافضي
Siapa yang mengatakan bahwa Abu Bakar dan Umar bukan imam (khalifah), maka dia adalah Syi’ah Rafidhah.
Syi’ah Rafidhah disebut juga Syi’ah Imamiyah Itsna’asyriyyah (Syi’ah dua belas Imam), karena mereka meyakini bahwa Nabi Muhammad Saw telah menuliskan keimaman secara teks.
Perbedaan pada Ushul (prinsip utama).
Perbedaan dalam masalah furu’ (cabang) adalah suatu kewajaran. Tapi perbedaan dengan Syi’ah adalah perbedaan pada masalah-masalah ushul (dasar). Ini dapat dilihat dalam teks-teks klasik Syi’ah:
Tentang Allah Swt:
وحاصله أنا لم نجتما معهم على إله ولا على نبي ولا على إمام، وذلك أنهم يقولوا إن ربهم هو الذي كان محمد صلى الله
عليه وسلم نبيه وخليعته بعده أبو بكر ونحن لا نقول بهذا الرب ولا بذالك النبي،
بل نقول أن الرب الذي خليعة نبيه أبو بكر ليس ربنا ولا ذلك النبي نبينا
Kesimpulannya bahwa kami (Syi’ah) tidak mungkin bersama dengan mereka (Sunni) dalam satu tuhan, satu nabi dan satu imam. Karena mereka (Sunni) mengatakan bahwa tuhan mereka adalahMuhammad nabi-Nya dan Abu Bakar khalifah setelahnya. Sedangkan kami tidak mengakui tuhan itu dan nabi itu. Bahkan kami katakan bahwa tuhan yang khalifah nabi-Nya adalah Abu Bakar bukanlah tuhan kami dan nabi itu juga bukan nabi kami.
Al-Qur’an Menurut Syi’ah.
عن أبي جَعْعَرٍ ) عليه السلام ( قال: ) مَا ادَّعَى أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ أَنَّهُ جَمَاَ الْقُرْآنَ كُلَّهُ كَمَا أُنْزِلَ إِلَّا كَذَّابٌ وَ مَا جَمَعَهُ وَ حَعِظَهُ كَمَا
نَزَّلَهُ اللََُّّ تَعَالَى إِلَّا عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ ) عليه السلام ( وَ الْأَئِمَّةُ مِنْ بَعْدِهِ عليهم السلام
Dari Abu Ja’far ‘Alaihissalam, ia berkata, “Siapa yang menyatakan bahwa seorang dari manusia mengumpulkan seluruh al-Qur’an sebagaimana yang telah diturunkan, maka ia adalah pendusta. Tidak ada yang mengumpulkan al-Qur’an dan menjaga/menghafalnya sebagaimana yang telah diturunkan Allah Swt kecuali Ali bin Abi Thalib ‘Alaihissalam dan para imam setelahnya”.
Dalam riwayat lain disebutkan,
عن أبي عبدالله قال: ) وَ إِنَّ عِنْدَنَا لَمُصْحَفَ فَاطِمَةَ ) عليها السلام ( وَ مَا يُدْرِيهِمْ مَا مُصْحَفُ فَاطِمَةَ ) عليها السلام ( قَالَ قُلْتُ
وَ مَا مُصْحَفُ فَاطِمَةَ ) عليها السلام ( قَالَ مُصْحَفٌ فِيهِ مِثْلُ قُرْآنِكُمْ هَذَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ وَ اللََِّّ مَا فِيهِ مِنْ قُرْآنِكُمْ حَرْفٌ وَاحِدٌ
Dari Abu Abdillah, ia berkata, “Sesungguhnya kami (Syi’ah) memiliki mush-haf Fatimah ‘Alaihassalam. Tahukah mereka apa itu mush-haf Fatimah? Saya bertanya, “Apakah mush-haf Fatimah itu?”. Ia menjawab, “Mush-haf yang di dalamnya seperti al-Qur’an kamu ini tiga kali lipat, demi Allah tidak ada di dalamnya al-Qur’an kamu walaupun satu huruf”.
Bahkan al-Kulaini menulis satu bab berjudul,
باب لم يجما القرآن كله إلا الأئمة عليهم السلام
Bab: Tidak ada yang mengumpulkan al-Qur’an secara keseluruhan kecuali para imam ‘Alaihimussalam.
Dari kutipan di atas terlihat jelas perbedaan antara Sunni dan Syi’ah dalam hal yang sangat prinsip, yaitu al-Qur’an. Bahkan ini tertulis dalam kitab induk Syi’ah yang diyakini keshahihannya.
Ayat Sempurna Menurut al-Kafi.
Allah Swt berfirman dalam surat al-Ahzab, ayat: 71,
وَمَنْ يُطِاِ اللَََّّ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
“Siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, sungguh ia telah menang dengan kemenangan yang besar”.
Namun ayat yang sempurna menurut kitab al-Kafi adalah,
عَنْ أَبِي عَبْدِ اللََِّّ ) عليه السلام ( فِي قَوْلِ اللََِّّ عَزَّ وَ جَلَّ وَ مَنْ يُطِاِ اللَََّّ وَ رَسُولَهُ فِي وَلَايَةِ عَلِ ي وَ وَلَايَةِ الْأَئِمَّةِ مِنْ بَعْدِهِ فَقَدْ فازَ
فَوْزاً عَظِيما هَكَذَا نَزَلَتْ
Dari Abu Abdillah ‘Alaihissalam, tentang firman Allah Swt, “Siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dalam hal kekuasaan Ali dan kekuasaan para imam setelahnya, sungguh ia telah menang dengan kemenangan yang besar”, demikian ayat ini diturunkan.
Tentang ayat 115, surat Thaha,
وَلَقَدْ عَهِدْنَا إِلَى آَدَمَ مِنْ قَبْلُ فَنَسِيَ
“Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu)”.
Dalam al-Kafi disebutkan,
عَنْ أَبِي عَ بْدِ اللََِّّ ) عليه السلام ( فِي قَوْلِهِ وَ لَقَدْ عَهِدْنا إِلى آدَمَ مِنْ قَبْلُ كَلِمَاتٍ فِي مُحَمَّدٍ وَ عَلِ ي وَ فَاطِمَةَ وَ الْحَسَنِ وَ الْحُسَيْنِ
وَ الْأَئِمَّةِ )عليهم السلام ( مِنْ ذُ ريَّتِهِمْ فَنَسِيَ هَكَذَا وَ اللََِّّ نَزَلَتْ عَلَى مُ حَمَّدٍ ) صلى الله عليه وآله (
Dari Abu Abdillah ‘Alaihissalam, tentang ayat, “Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu beberapa kata tentang Muhammad, Ali, Fatimah, Hasan, Husain dan para imam ‘Alaihissalam dari keturunan mereka, maka ia lupa akan perintah itu”. Demi Allah, demikian ayat ini turun kepada nabi Muhammad Saw.
Para Imam Ma’shum Menurut Syi’ah.
Dalam kitab al-Kafi ada satu bab berjudul,
باب أن الأئمة عليهم السلام يعلمون علم ما كان ، وما يكون ، وأنه لا يخعى عليهم شيء
Bab: Para imam ‘Alahimussalam mengetahui apa yang telah terjadi, apa yang sedang dan akan terjadi, tidak ada yang tersembunyi bagi para imam walau sedikitpun.
Kemudian Imam al-Kulaini memuat satu riwayat dari Imam al-Husain,
عن أبي عبد الله عليه السلام قال : إني أعلم ما في السموات ، وما في الأرض ، وأعلم ما في الجنة والنار ، وأعلم ما كان ،
وما يكون
Dari Abu Abdillah ‘Alaihissalam, ia berkata, “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang ada di langit, apa yang ada di bumi, aku mengetahui apa yang ada di dalam surga dan neraka. Aku mengetahui apa yang telah terjadi, apa yang sedang dan akan terjadi”331.
Dalam Ushul al-Kafi juga al-Kulaini ada memuat satu bab,
باب أن الأرض كلها للإمام
Bab: Sesungguhnya Seluruh Bumi Milik Imam. Dalam bab ini al-Kulaini memuat beberapa riwayat, diantaranya,
عن أبي بصير عن أبي عبد الله عليه السلام قال : ” أما علمتَ أن الدنيا والآخرة للإمام يضعها حيث يشاء ويدفعها إلى من
يشاء ” .
Dari Abu Bashir, dari Abu Abdillah (Al-Husein) ‘Alaihissalam, ia berkata, “Apakah engkau tidak mengetahui bahwa dunia dan akhirat milik imam, ia meletakkan kepada siapa yang ia kehendaki dan menyerahkannya kepada siapa yang ia kehendaki Melihat kedudukan kitab al-Kafi yang begitu tinggi dalam Syi’ah, tidak mengherankan jika riwayat-riwayat ini memberikan fanatisme yang luar biasa terhadap para imam, karena para imam memiliki kuasa tanpa batas.
Imam Ali Naik ke Langit.
أحمد بن عبد الله، عن عبد الله بن محمد العبسي، قال: أخبرني حماد بن سلمة عن الأعمش عن زياد بن وهب عن عبد الله بن
مسعود قال: أتيت فاطمة صلوات الله عليها. فقلت لها: أين بعلك؟ فقالت: عر به جبرئيل عليه السلام إلى السماء. فقلت: فيما
ذا؟ فقالت: إن نعرا من الملائكة تشاجروا في شيء فسألوا حكما من الآدميين فأوحى الله تعالى إليهم أن تخيروا، فاختاروا
على بن أبي طالب عليه السلام
Ahmad bin Abdillah, dari Abdullah bin Muhammad al-‘Abasi, ia berkata, “Hammad bin Salamah meriwayatkan kepada saya dari al-A’masy, dari Ziyad bin Wahab, dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, ‘Saya datang menemui Fatimah –shalawatullah ‘alaiha-. Saya bertanya, ‘Di manakah suamimu?’. Fatimah menjawab, ‘Malaikat Jibril membawanya naik ke langit’. Saya bertanya, ‘Untuk urusan apa?’. Fatimah menjawab, ‘Sesungguhnya beberapa malaikat bertengkar, mereka menanyakan hukum dari para manusia. Maka Allah mewahyukan kepada para malaikat agar para malaikat menetapkan pilihan. Lalu mereka memilih Ali bin Abi Thalib –‘Alaihissalam-333.
Meskipun semua data tersebut di atas dari kitab-kitab terpercaya dalam golongan Syi’ah, mungkin ada yang mengatakan bahwa itu hanya ada pada Syi’ah masa silam. Namun teks berikut ini membuktikan bahwa sikap fanatik terhadap imam itu teru berlanjut sampai saat ini.