Faktor-faktor Penyebab Islam Diterima di Nusantara | Kajian Islam

Masuknya agama Islam di Nusantara sangat mempengaruhi perkembangan budaya masyarakat yang multi, etnis, Sampai sekarang, banyak tradisi  dari berbagai daerah yang merupakan budaya lokal seolah berasal dari ajaran Agam Islam. Bertolak dari kenyataan tersebut, terbentuklah Seni Budaya (Lokal) yang berakulturasi dengan ajaran Islam, yang banyak menghasilkan peninggalan sebagai saksi sejarah dan tetap dilestarikan dan dikembangkan hingga sekarang.

Faktor-faktor Penyebab Islam Diterima di Nusantara
Ada beberapa faktor yang menyebabkan Islam begitu mudah diterima dan dengan cepat berkembang dan menggantikan Agama Hindu dan Budha . Faktor-faktor itu antara lain sebagai berikut.

1. Daya Tarik Ajaran Agama Islam


Salah satu keunggulan agama Islam adalah watak dan semangat Egaliternya. Kehidupan pembawa agama ini dinusantara terdiri atas para pedagang yang kaya, makmur, dan terpelajar. Dengan memeluk agama ini penduduk pribumi berpeluang meningkatkan taraf hidup dan status sosialnya. Misalnya dapat berpartisipasi dalam perdagangan regional dan antar pulau, serta dapat memasukan anak-anak mereka ke lembaga-lembaga pendidikan yang didirikan di mana saja terdapat komunitas muslim. Sudah menjadi kebiasaan di mana saja terdapat komunitas Islam dalam Jumlah besar, disitu hadir pula para pendakwah dan guru agama, Masjid-masjid didirikan, begitu pula madrasah. Pengajian-pengajian diselenggarakan secara intensif.
Penggunaan 


2. Kesenian Sebagai Media Dakwah
Inilah yang dilakukan wali Sanga di Jawa seperti sunan Bonang, Sunan Derajat, Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, Dan Sunan Gunung Jati. Seorang sejarawan abad ke-15 M yang tinggal lama di malabar, Zainuddin al-Ma’bari, menulis dalam bukunya Tuhfat al-Mujahidin bahwa banyak penduduk India Selatan dan Nusantara tertarik memeluk Agama Islam setelah menyaksikan dan mendengar pembacaan riwayat hidup dan perjuangan Nabi Muhammad Saw, yang disampaikan dalam bentuk syair dan dinyanyikan, Yang dimaksud Zainuddin al-Ma’bari ialah pembacaan kasidah Burdah, Syaraful anam, Syair Rampai Maulid, dan yang Sejenis itu yang hingga sekarang masih kita saksikan dikalangan masyarakat Muslim tradisional di seluruh dunia Islam. 

3. Meningkatkannya pertumbuhan Pribumi
Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan sosial dan ekonomi. Mereka yang tinggal di kota-kota pelabuhan mulai banyak yang meninggalkan pasar tradisional, menjadi perantau dan pelayar yang tangguh. Dengan demikian mobilitas sosial terjadi baik secara horizontal maupun secara vertikal. Etos dan Budaya berdagang juga berkembang. Ini bisa kita lihat pada etnik-etnik pesisir yang telah lama memeluk Islam dan menjadikan Islam sebagai bagian dari dirinya seperti Minangkabau, Bugis, Makassar, Banjar, Madura, Jawa Pesisir, Palembang dan lain-lain. Mereka adalah di antara suku bangsa-suku bangsa Nusantara yang memiliki budaya dagang kuat. khusus etnis Bugis, Makassar, dan Madura, memiliki tradisi pelayaran Jarak Jauh yang tangguh hingga kini. Semua itu merupakan dampak dari kedatangan dan perkembangan Islam.

3.Pemakai Bahasa Melayu Sebagai Media Penyebaran Agama Islam

Sejak abad ke-16 M, bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa pengantar di lembaga-lembaga pendidikan. Hal memudahkan penduduk Nusantara di kota-kota pelabuhan memahami ajaran Islam dan Sekaligus memudahkan orang-orang Islam dari berbagai etnik itu saling berkomunikasi dan berinteraksi. Ditambah lagi dengan kesamaan agama yang mereka anut. Bahasa Melayu mengalami proses islamisasi yang begitu deras dengan diserapnya ratusan kata-kata arab dan Persia. Yang tidak sedikit antara lain adalah istilah-istilah teknis ilmu-ilmu agama dan falsafah Islam. Derasnya proses islamisasi bahasa Melayu itu tampak secara menonjol dalam risalah dan syair-syair tasawuf Hamzah Fansuri, seorang cendikiawan sufi abad ke-16 M. Dalam karya-karyanya itu kita menjumpai lebih 2.000 kata-kata Arab diserap dalam bahasa Melayu. Pemakaian huruf Arab Melayu juga meluas. Tidak hanya penulis kitab Melayu menggunakan huruf ini, tetapi juga penulis dari daerah lain di kepulauan Nusantara seperti Jawa, Sunda, Madura, Bugis, Makassar, Banjar, Sasak, Minangkabau, Mandailing, Palembang, Bima Ternate, dan lain-lain.