Jangan Sia-Siakan Bulan Ramadhan | Kajian Islam

Sudah sepatutnya kita mempersiapkan diri agar bisa memanfaatkan segala keistimewaan tersebut, sehingga momen Bulan Suci ini tidak menjadi sia-sia karena kelalaian kita yang terlalu sibuk menghabiskan waktu untuk urusan dunia. Keistimewaan Ramadhan juga merupakan satu-satunya bulan yang disebutkan Allah dalam Alquran.

Jangan sampai kita yang masih diberi umur oleh Allah Swt, menyia-nyiakan kesempatan dan momentum bulan Ramadhan dengan berbagai fasilitas di dalamnya. Sangat banyak orang yang sudah meninggal dunia, sekarang ini sangat menyesal di dalam kuburnya karena dulu waktu hidup tidak memanfaatkan bulan Ramadhan untuk meraih ampunan Allah. Sehingga sekarang mereka ingin kembali lagi ke dunia, tapi tak ada kesempatan lagi.

Ada dua golongan utama manusia dalam menyongsong bulan Ramadhan,
Merasa Gembira
 tergantung pada derajat keimanannya. Golongan pertama merasa gembira dan bersuka cita dengan kedatangan bulan mulia ini, bahkan jauh-jauh hari menanti dan merindukannya.
Golongan ini bahagia dengan kedatangan bulan Ramadhan, karena hal-hal yang bersifat ukhrawi. Seperti kenikmatan berpuasa dan melaksanakan amal ibadah, dilipatgandakannya pahala kebaikan, dibukanya pintu-pintu surga, ditutupnya pintu-pintu neraka, setan terbelenggu, serta hadirnya lailatul qadar.
“Inilah golongan orang-orang yang beriman, yang yakin akan keutamaan bulan Ramadhan, dan yakin dengan janji Allah SWT. Hal ini telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan selalu diikuti dan dilakukan oleh para sahabat dan salafus saleh,
Merasa Sengsara
Golongan kedua, yang merasa sengsara, risau, dan resah dengan datangnya bulan Ramadhan. Puasa dianggap beban yang menyebabkan berkurangnya waktu untuk mencari dunia, melemahnya tenaga untuk bekerja, menurunnya omset bisnis, bertambahnya pengeluaran rumah tangga, naiknya harga-harga, dan lain sebagainya. Kedatangan Ramadhan juga menyebabkan orang yang kering imanya tidak bisa lagi bebas makan minum serta memperturutkan hawa nafsu duniawinya.
Golongan ini, walaupun berpuasa namun terpaksa, karena malu dengan lingkungannya. Puasanya hanya sebatas menahan lapar dan dahaga, serta jauh dari keikhlasan. Puasa seperti itu adalah sia-sia, karena tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya, selain lapar dan dahaga saja.
Dimana-mana menjelang Ramadhan kita selalu melihat dan mendengar kata-kata ‘Marhaban Ya Ramadhan’ lewat spanduk, tayangan televisi, dan siaran radio. Tapi sejauh mana kita tulus dan ikhlas dalam menyambut Ramadhan? Apakah hanya sebatas ucapan di mulut saja? Mari kita tanyakan pada diri sendiri, termasuk golongan yang manakah kita? Yang gembira atau sengsara. Jawaban yang jujur dari pertanyaan ini mencerminkan bagaimana derajat keimanan kita,” imbuh