Sejarah Umat Islam Diperintahkan Berpuasa Ramadan


Sejarah Umat Islam Diperintahkan Berpuasa Ramadan

Dua pekan lagi, akan memasuki bulan suci Ramadan. Umat Islam menyambut gembira kedatangan bulan suci ini. Bulan yang penuh berkah, rahmat dan ampunan.
Sebelum memasuki bulan Ramadan, menarik juga untuk mengetahui sejarah awal mula diperintahkannya umat Islam untuk menjalankan puasa pada bulan Ramadan. Dalam berbagai riwayat, jauh sebelum diwajibkan perintah puasa Ramadan, pada masa masa awal Islam, Nabi Muhammad SAW selalu melaksanakan puasa selama 3 hari setiap bulannya sebagaimana diwajibkan dari masa Nabi Nuh AS. Selain itu, Rasulullah juga selalu melaksanakan puasa Asyuro yang jatuh pada 10 Muharram. Perubahan kewajiban puasa terjadi saat Rasulullah hijrah ke Madinah.
Baru setelah itu puasa Ramadan sendiri mulai diwajibkan (untuk melakukan ibadah puasa Ramadan) pada 10 Syaban, satu setengah tahun setelah umat Islam hijrah ke Madinah. Ketika itu, Nabi Muhammad baru saja diperintahkan untuk mengalihkan arah kiblat dari Baitulmaqdis (Yerusalem) ke Kabah di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi.
Perintah puasa Ramadan ini didasarkan pada firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 183-184. Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa puasa telah dilakukan sebelum masa kerasulan Muhammad SAW.
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka Barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan, wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah: memberi Makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui, (Q.S. al-Baqarah: 183-184).
Setelah ayat tersebut turun, puasa Ramadan menjadi kewajiban yang harus dilaksanakan oleh umat Islam selama satu bulan dengan memenuhi syarat dan dan rukun yang telah disyariatkan. Bahkan puasa masuk dalam rukun Islam, sehingga umat Islam wajib menjalankan dan jika meninggalkan akan mendapat dosa. Namun dalam surat tersebut juga diberi keringanan bagi orang-orang yang tidak diwajibkan puasa karena beberapa alasan, seperti sakit. Namun setelah itu dia diwajibkan untuk membayar ganti puasa tersebut.
Dalam definisi Ahli Fiqh (fuqaha), puasa (shawm) adalah menahan diri dari segala perkara yang merusaknya (baik makan, minum, atau dorongan nafsu) dengan tujuan sebagai salah satu sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.