Dasar Hukum Jual Beli Dalam Islam | Kajian Islam

Islam adalah agama yang fleksibel, begitu pula hukum-hukum yang ada di dalamnya. Seperti hukum ekonomi Islam yang tak hanya terbatas saat munculnya Islam, tetapi hukum itu dapat dipakai pada zaman dahulu hingga sekarang, bahkan yang akan datang. Karena keleluasaannya itu, Islam dapat mengatasi masalah yang terjadi pada zaman modern ini.
Hukum ekonomi Islam yang dapat dipakai sepanjang zaman ini, merupakan rangkaian Wahyu yang telah Allah Swt, berikan kepada nabi Muhammad Saw, untuk itu kita perlu memahaminya.
Jual Beli Dalam Islam
Kegiatan ekonomi dalam Islam ada beberapa ketentuan dalam melakukan transaksi jual beli, yaitu sebagai berikut.


1. Dasar Hukum

a. Firman Allah Swt, dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 275

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Artinya: Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya

Keterangan Tafsir:

Riba itu ada dua macam Nasiah dan Fadli
.
1) Riba Nasiah ialah pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang meminjamkan.
2) Riba Fadli ialah penukaran suatu barang dengan barang yang sejenis, tetapi lebih banyak jumlahnya karena orang yang menukarkan  mensyaratkan demikian, seperti penukaran emas dengan emas, padi dengan padi.
Riba yang dimaksud dalam ayat ini riba Nasiah, yang berlipat ganda yang umum terjadi dalam masyarakat Arab zaman Jahiliah.
Maksudnya: Orang yang mengambil Riba tidak tenteram Jiwanya seperti orang kemasukan setan.
Riba yang sudah diambil (dipungut) sebelum turun ayat ini, boleh tidak dikembalikan .

b. Firman Allah Swt, dalam Al-Qur’an Surah An-nisa ayat 29
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”.
Keterangan Tafsir: Larangan Membunuh diri sendiri mencangkup juga larangan membunuh orang lain sebab membunuh orang lain berarti membunuh diri sendiri karena umat merupakan suatu kesatuan. 

c. Sabda Rasulullah Saw, “Sesungguhnya jual beli itu baru sah jika (dilakukan) atas dasar rela sama rela. (H.R Ibnu Majah)
Syarat dan Rukun Jual Beli
A. Syarat Jual Beli
1. Penjual dan pembeli sudah Balig
2. Penjual dan pembeli berakal sehat (tidak gila)
3. Jual beli dilakukan dengan cara rela sama rela
4. Barang yang diperjualbelikan milik sendiri.


B. Rukun Jual Beli

1. Ada penjual dan pembeli
2. Ada barang yang diperjualbelikan
3. Ada alat tukar untuk kegiatan jual beli
4. Akad, yaitu ijab dan kabul antara penjual dan pembeli.
Jual beli yang tidak memenuhi syarat dan rukunnya, maka hukumnya tidak sah dan haram. 

Berikut adalah bentuk-bentuk jual beli.

A. Jual beli Terlarang tetapi Sah, yaitu sebagai berikut.

1) Menyakiti perasaan pembeli.
2) Menaikan harga dengan sangat tinggi sehingga meresahkan masyarakat pembeli,
3) Jual beli yang dilakukan pada waktu akan menunaikan salat Jumat
4) Membeli atau menjual barang yang sedang ditawar orang lain masih dalam masa (khiar) boleh memilih meneruskan jual beli atau membatalkannya.
5) Membeli barang pedagang kampung dengan cara menghadangnya di pinggir jalan sebelum pedagang itu mengetahui harga yang sebenarnya di pasar.
6) Membeli barang untuk ditimbun dengan maksud agar kelak dapat menjualnya dengan harga yang tinggi dan keuntungan yang berlipat ganda.
7) Menjual belikan barang yang sah, tetapi untuk maksiat, seperti memebeli ayam jago untuk diadu.
8) Jual beli dengan maksud untuk menipu, seperti barang dagangan di luarnya baik, tetapi didalamnya rusak atau mengurangi takaran.


B. Jual beli yang terlarang dan tidak sah (kurang syarat dan rukunnya), yaitu sebagai berikut.

1) Menjual air mani (Sperma) hewan jantan karena tidak diketahui kadarnya dan tidak diberi makanan.
2) Menjual sesuatu yang belum ada di tsngan, artinya barang yang di jual itu masih berada di tangan penjual pertama dan belum diterima oleh pembelinya.
3) Menjual dengan Sistem ijon (Jual beli Yang belum Jelas barang nya)
4) Jual beli anak Hewan ternak yang masih dalam kandungan dan belum Jelas hidup atau mati.
5) Jual beli benda najis, minuman keras, dan bangkai.