Pengertian Mawaris Atau Kewarisan

Meraih Berkah Dengan Mawaris

Manusia memegang peranan yang penting dalam kehidupan manusia, sebab Mawaris pada zaman Arab Jahiliah sebelum Islam datang membagi harta warisan kepada laki-laki dewasa, sedangkan kaum perempuan dan anak-anak yang belum dewasa tidak mendapatkan bagian. Pada saat Agama Islam masuk dengan turunnya Surah An-Nisa, 4:11 yang artinya:
(Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa diantara mereka yang lebih dekat banyak manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan Allah, Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi bijaksana.

Pengertian Mawaris atau Kewarisan

Agama Islam dengan kesempurnaannya telah mengatur pembagian warisan secara terperinci dalam Alquran dan Sunah agar tidak terjadi perselisihan diantara ahli waris. Islam menghendaki pemindahan kepemilikan melalui warisan  sesuai dengan jiwa dan Syariat yang mengedepankan prinsip keadilan. Namun, sangat disayangkan banyak kaum muslimin yang belum memahami warisan dengan baik, bahkan masih sering terjadi perselisihan dan permusuhan.

Dari Abdullah Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Pelajarilah Al-Qur’an dan ajarkanlah kepada orang lain, serta pelajarilah faraid dan ajarkanlah kepada orang lain. Sesungguhnya aku seorang yang bakal meninggal, dan ilmu ini pun bakal sirna hingga akan muncul fitnah. Bahkan akan terjadi dua orang yang akan berselisih dalam hal pembagian (hak yang mesti ia terima), namun keduanya tidak mendapati orang yang dapat menyelesaikan perselisihan tersebut. ” (HR Daruquthni)

Dasar Hukum Mawaris

Hukum mawaris mengatur hal-hal yang menyangkut harta peninggalan (warisan) yang ditinggalkan oleh ahli waris atau orang yang meninggal. Ilmu mawaris dalam islam mengatur peralihan harta peninggalan dari pewaris kepada nasabnya atau ahli warisnya yang masih hidup. Adapun dasar-dasar hukum yang mengatur ilmu mawaris adalah sebagai berikut:

لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ ۚ نَصِيبًا مَفْرُوضًا

“Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan”. (QS. An-nisa (4): 7)

يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ ۖ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ ۚ فَإِنْ كُنَّ نِسَاءً فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ ۖ وَإِنْ كَانَتْ وَاحِدَةً فَلَهَا النِّصْفُ ۚ وَلِأَبَوَيْهِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ إِنْ كَانَ لَهُ وَلَدٌ ۚ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ وَلَدٌ وَوَرِثَهُ أَبَوَاهُ فَلِأُمِّهِ الثُّلُثُ ۚ فَإِنْ كَانَ لَهُ إِخْوَةٌ فَلِأُمِّهِ السُّدُسُ ۚ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِي بِهَا أَوْ دَيْنٍ ۗ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ لَا تَدْرُونَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا ۚ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anakanakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, Maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, Maka ia memperoleh separo harta. dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak;n jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), Maka ibunya mendapat sepertiga; jika yangmeninggal itu mempunyai beberapa saudara, Maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”.(QS. An-nisa (4): 11)

Ada tiga unsur terwujudnya Kewarisan (mawaris) yaitu sebagai berikut.
1. Orang yang meninggal dunia dan meninggalkan harta yang akan dibagikan kepada ahli warisnya disebut pewaris (al-mawaris).
2. Orang yang akan mewarisi harta peninggalan si mayat disebut ahli waris (Al-waris).
3. Harta peninggalan si mayat yang akan dibagikan kepada ahli waris setelah dilaksanakan kewajiban-kewajibanya disebut harta waris (haqun Mahrus).
– Menurut Bahasa, Warisan merupakan bentuk Masdar warisan-yasiru-irsan-mirasan yang berarti berpindahnya sesuatu dari seseorang kepada orang lain, atau dari sesuatu kaum kepada kaum lain. Dalam bahasa Arab, warisan disebut Al-miras.
– Menurut Istilah Warisan berpindahnya hak kepemilikan dari orang yang meninggal kepada ahli warisnya yang masih hidup. Baik yang ditinggalkan itu berupa harta (uang), tanah, maupun apa saja yang berupa hak milik legal secara syar’i.

Ilmu Mawaris biasa disebut dengan Ilmu Farid, yaitu ilmu yang membicarakan segala sesuatu yang berhubungan dengan harta warisan, yang mencangkup masalah-masalah orang yang berhak menerima warisan, bagian masing-masing, dengan cara melaksanakan Pembagiannya, serta hal-hal lain yang berkaitan dengan ketiga masalah tersebut.

Baca Juga : Pengertian Ahli Waris, Syarat-syarat dan sebab mendapatkan Warisan

Dasar-dasar Hukum Waris

Sumber hukum ilmu waris yang paling utama adalah Alquran, kemudian As-Sunnah/hadis dan setelah itu Ijmak para ulama serta sebagaian kecil hasil ijtihad para Mujtahid.

Alquran
لِلرِّجَالِ نَصِيْبٌ مِّمَّا تَرَكَ الْوَالِدٰنِ وَالْاَقْرَبُوْنَ ۖ  وَلِلنِّسَآء نَصِيْبٌ مِّمَّا تَرَكَ الْوَالِدٰنِ وَالْاَقْرَبُوْنَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ اَوْ كَثُرَ  ۗ  نَصِيْبًا مَّفْرُوْضًا
“Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabatnya, dan bagi perempuan ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 7)

Ayat-ayat  lain tentang Mawaris terdapat dalam berbagai surah, antara lain An-Nisa, 4:7-12 dan ayat 176: Q.S An-Nahl, 16:75 dan Al-ahzab, 33:4 Adapun permasalahan yang muncul banyak diterangkan oleh As-Sunnah serta sebagaian sebagai hasil Ijmak dan Ijtihad.

As-Sunnah

قال رسول الله صلّى الله عليه و سلّم : ياَ أَبَا هُرَيْرَةَ تَعَلَّمُوْا الفَرَائِضَ وَعَلِّمُوْهَا فَإِنَّهُ نِصْفُ العِلْمِ وَهُوَ يُنْسَى، وَهُوَ أَوَّلُ شَيْءٍ يُنْزَعُ مِنْ أُمَّتيِ (رواه ابن ماجه)
Rasulullah Saw berkata : “Wahai Abu Hurairah! Pelajarilah al-Faraidh (ilmu mawaris/pembagian), sesungguhnya al-Faraidh merupakan bagian dari ilmu namun ia dilupakan, dan ia (al-faraidh) merupakan sesuatu yang hilang dari umatku.” (Riwayat Ibn Majah).

Ijmak Ulama
Posisi Hukum Kewarisan Islam di Indonesia merunjuk kepada ketentuan dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI), mulai pasal 171 diatur tentang pengertian Pewaris, harta warisan, dan ahli waris. Komplikasi Hukum Islam merupakan kesepakatan para ulama dan perguruan tinggi berdasarkan Inpres No. 1 tahun 1991, Adapun yang masih menjadi perdebatan hangat adalah keberadaan pasal 185 tentang ahli waris pengganti yang memang tidak diatur dalam fikih Islam.

Baca Juga : Sebab-sebab tidak mendapatkan Harta Warisan

Baca Juga : Kumpulan Dakwah Agama Islam

Baca Juga : Kumpulan Soal Pendidikan Agama Islam