Pengertian Shalat Witir, Tata Cara, Hukum dan Penjelasan Lengkap

Shalat witir adalah amalan yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah SAW, baik di bulan Ramadhan atau di luar bulan Ramadhan, dan sekaligus ini adalah amalan yang sangat sunnah bagi umat beliau lebih khusus lagi adalah jika dilakukan pada malam-malam bulan Ramadhan.
Untuk menyatakan bahwasanya ini adalah sunnah yang dikukuhkan, mari kita lihat riwayat-riwayat dari Rasulullah SAW tentang shalat witir beliau:
Hadits riwayat Imam Al-Bukhari No. 990 jilid 2 hal. 404: عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَلاَةِ اللَّيْلِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَم صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى.

Dari Ibnu Umar RA seorang bertanya kepada Rasulullah SAW tentang Shalat malam, maka Rasulullah SAW bersabda: “Shalat malam itu 2 rakaat-2 rakaat, akan tetapi apabila salah seorang di antara kalian khawatir akan masuk waktu shalat Shubuh, maka shalatlah 1 rakaat sebagai witir.”

Hadits riwayat Imam Al-Bukhari No. 995 jilid 2 hal. 409:
حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ سِيرِينَ قَالَ قُلْتُ لاِبْنِ عُمَرَ أَرَأَيْتَ الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الْغَدَاةِ أُطِيلُ فِيهِمَا الْقِرَاءَةَ فَقَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى وَيُوتِرُ بِرَكْعَةٍ وَيُصَلِّي الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الْغَدَاةِ وَكَأَنَّ اْلأَذَانَ بِأُذُنَيْهِ قَالَ حَمَّادٌ أَيْ سُرْعَةً.

Telah bercerita kepada kami Sayyidina Anas bin Sirin RA beliau berkata: “Aku bertanya kepada Ibnu Umar RA shalat apakah 2 raka’at sebelum shalat Shubuh dan aku memperpanjang bacaan di 2 rakaat tersebut? Maka Ibnu Umar RA berkata “Rasulullah SAW melakukan shalat malam 2 rakaat – 2 rakaat kemudian menutupnya dengan witir 1 rakaat, kemudian beliau shalat 2 rakaat sebelum Shubuh dan seolah-olah adzan Shubuh (terdengar) di kedua telinganya”. Hammad berkata: “Yakni cepat” (jarak antara shalat 2 rakaat terakhir Rasulullah SAW dengan masuknya waktu Shubuh sangat dekat sekali).
Hadits riwayat Imam Al-Bukhari No. 997 jilid 2 hal. 411:
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي وَأَنَا رَاقِدَةٌ مُعْتَرِضَةً عَلَى فِرَاشِهِ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يُوتِرَ أَيْقَظَنِي فَأَوْتَرْتُ.
Dari Sayyidah Aisyah RA beliau berkata: “Rasulullah SAW melakukan shalat sedangkan aku tidur melintang di atas kasurnya, ketika beliau hendak melakukan shalat witir beliau membangunkanku kemudian aku melakukan shalat witir”.

Hadits riwayat Imam Al-Bukhari no. 998 jilid 2 hal. 412 :
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا.
Dari Abdullah Bin Umar ra dari Nabi Muhammad SAW beliau bersabda: “Jadikanlah Witir sebagai penutup Shalat malam kalian”.

Hadits riwayat Imam Al-Bukhari No. 999 jilid 2 hal. 413:
عَنْ سَعِيدِ بْنِ يَسَارٍ أَنَّهُ قَالَ كُنْتُ أَسِيرُ مَعَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ بِطَرِيقِ مَكَّةَ فَقَالَ سَعِيدٌ فَلَمَّا خَشِيتُ الصُّبْحَ نَزَلْتُ فَأَوْتَرْتُ ثُمَّ لَحِقْتُهُ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ أَيْنَ كُنْتَ فَقُلْتُ خَشِيتُ الصُّبْحَ فَنَزَلْتُ فَأَوْتَرْتُ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ أَلَيْسَ لَكَ فِي رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أسْوَةٌ حَسَنَةٌ فَقُلْتُ بَلَى وَاللَّهِ قَالَ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُوتِرُ عَلَى الْبَعِيرِ.
Dari Said bin Yasar RA sesungguhnya beliau berkata: “Dahulu aku berjalan pada malam hari bersama Abdullah bin Umar di salah satu jalan di Makkah, kemudian beliau (Sa’id) berkata: “Ketika aku khawatir waktu Shubuh (menjelang), maka aku turun kemudian melakukan shalat witir kemudian aku menyusul Abdullah Bin Umar lalu beliau bertanya “Kemana saja kamu?”, kemudian aku menjawab “Aku khawatir masuk waktu Shubuh, maka dari itu aku turun dan melakukan shalat witir.” Kemudian Abdullah bin Umar berkata: “Bukankah Rasulullah SAW suri tauladan yang baik?” Maka aku menjawab: “Ya, demi Allah.” Abdullah Bin Umar berkata: “Sungguh Rasulullah SAW pernah melakukan shalat witir di atas unta.”

Hadits riwayat Imam Al-Bukhari No. 1000 jilid 2 hal. 414:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي السَّفَرِ عَلَى رَاحِلَتِهِ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ بِهِ يُومِئُ إِيمَاءً صَلاَةَ اللَّيْلِ إِلاَّ الْفَرَائِضَ وَيُوتِرُ عَلَى رَاحِلَتِهِ.
Dari Ibnu Umar RA beliau berkata: “Nabi Muhammad SAW melakukan shalat di saat bepergian di atas untanya kemana pun untanya tersebut menghadap, beliau melakukan shalat malam (dengan cara seperti itu) selain shalat fardhu kemudian melakukan shalat witir di atas untanya.”

Hadits riwayat Imam Al-Bukhari 1094 jilid 4 hal 334:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِاللَّيْلِ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً ثُمَّ يُصَلِّي إِذَا سَمِعَ النِّدَاءَ بِالصُّبْحِ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ.

Sayyidah Aisyah RA berkata: “Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah melakukan shalat malam 13 rakaat, kemudian Rasulullah SAW melakukan Shalat 2 rakaat yang ringan ketika mendengar adzan Shubuh.”

Hadits riwayat Imam Al-Bukhari no. 1079 jilid 4 hal. 319:
عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَيْفَ كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثًا قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ فَقَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلاَ يَنَامُ قَلْبِي.

Dari Abu Salamah bin Abdurrahman, suatu ketika beliau bertanya kepada Sayyidah Aisyah RA tentang shalatnya Rasulullah SAW di bulan Ramadhan, maka Sayyidah Aisyah RA menjawab. “Rasulullah SAW tidak menambah lebih dari 11 raka’at baik di bulan Ramadhan atau diluar ramadhan, beliau melakukan shalat 4 rakaat dan jangan engkau bertanya tentang kebagusan dan panjangnya Shalat beliau, kemudian beliau melakukan shalat 4 rakaat lagi, dan jangan engkau bertanya kebagusan dan panjangnya, kemudian beliau melakukan shalat 3 rakaat”. Kemudian Sayyidah Aisyah RA berkata: “Wahai Rasulullah SAW apakah engkau tidur sebelum melakukan shalat witir? Maka Rasulullah SAW SAW menjawab: “Wahai Aisyah, memang benar mataku tertidur, akan tetapi hatiku tidak tidur”.

Hadits riwayat Imam Muslim no. 1222 jilid 4 hal. 92:
عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ قَالَ سَمِعْتُ عَائِشَةَ تَقُولُ كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ اللَّيْلِ عَشَرَ رَكَعَاتٍ وَيُوتِرُ بِسَجْدَةٍ وَيَرْكَعُ رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ فَتِلْكَ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً.

Dari Al-Qosim bin Muhammad, beliau berkata: “Aku mendengar Sayyidah Aisyah RA berkata: “Shalatnya Rasulullah SAW pada malam hari itu 10 rakaat dan ditutup dengan 1 rakaat, kemudian beliau melakukan shalat 2 rakaat maka terkumpulah shalat beliau menjadi 13 rakaat.”

Hadits riwayat Imam At-Tirmidzi no. 240 jilid 2 hal 263:
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوتِرُ بِثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً فَلَمَّا كَبِرَ وَضَعُفَ أَوْتَرَ بِسَبْعٍ.

Dari Ummu Salamah RA beliau berkata: “Nabi Muhammad SAW melakukan shalat witir 13 rakaat, namun ketika beliau mulai lanjut usia dan lemah, maka beliau melakukan shalat witir 7 rakaat”.

Keterangan:
Kalau kita lihat dari hadits-hadits tersebut di atas, sungguh Rasulullah SAW begitu menghimbau untuk melakukan shalat witir dan menghimbau kita untuk memperbanyak melakukan shalat witir hingga 11 rakaat bahkan sampai 13 rakaat.
Adapun bagi orang yang ingin mengurangi dari bilangan tersebut hendaknya diupayakan tidak kurang dari 3 rakaat.

Sampai dikatakan oleh para ulama bahwasanya 3 rakaat adalah derajat kesempurnaan shalat witir yang paling rendah (أَقَلُّ الْكَمَالِ) , kecuali bagi seseorang yang memiliki waktu yang sempit dan tidak mempunyai kesempatan untuk melakukan shalat witir 3 rakaat, maka hendaknya ia melakukan shalat witir 1 rakaat. Yang terpenting adalah jangan sampai tidak melakukan shalat witir sama sekali.

Kesimpulan:
1. Pendapat yang dikukuhkan kebanyakan ulama, bahwa bilangan witir terbanyak adalah 11 rakaat, inilah yang dilazimi oleh Rasulullah SAW.
2. Witir 13 rakaat adalah pendapat sebagian kecil para ulama.
3. Paling sedikitnya witir adalah 1 rakaat.

Sumber:  https://buyayahya.org/adakah-tarawih-yang-bidah.html