Berikut Penjelasan 8 Syarat&Ciri Kalimat Baku

Pada kali ini kang darus akan membahas tentang Penjelasan Kalimat Baku,

Berikut 8 Syarat-Syarat Kalimat Baku antara lain sebagai berikut;
1. Menggunakan Huruf Kapital Yang Benar
2. Gagasan Padu
3. Logis atau Tidak Ambigu
4. Struktur Pararel
5. Menggunakan Tanda Baca Yang Benar
6. Memiliki Struktur Dan Ketatabahasaan Yang Tepat
7. Hemat Kata
8. Ejaan yang Tepat

Berikut 8 Ciri-Ciri Kalimat Baku antara lain sebagai berikut;
1. Menggunakan ejaan yang benar
2. Menggunakan huruf kapital dengan tepat.
3. Tidak menggunakan pemborosan kata
4. Memiliki struktur yang pararel.
5. Menggunakan tanda baca yang benar
6. Menggunakan struktur bahasa yang tepat.
7. Bisa menyampaikan gagasannya dengan baik atau tidak ambigu.
8. Memiliki kepaduan antara gagasan dan juga struktur.

Definisi

Kalimat baku adalah kalimat yang memiliki keseuaian dengan kaidah berbahasa Indonesia baik dalam hal diksi (pilihan kata), stuktur kalimat, dan ejaannya. Kalimat baku juga memiliki kesamaan dengan kalimat efektif jika diperhatikan dari sisi bentuknya. Namun terkadang kalimat efektif tidak perlu memperhatikan sisi ideal dari kalimat baku. Kesimpulannya adalah kalimat baku sudah pasti efektif, sedangkan kalimat efektif belum tentu baku.

Sedangkan kalimat tidak baku adalah kalimat yang tidak memenuhi syarat penggunaan kaidah berbahasa Indonesia. Dalam beberapa kasuistik, kalimat efektif juga masuk ke dalam ranah kalimat tidak baku dengan hanya memperhatikan efektivitas maksud dan tujuan yang hendak disampaikan.

Ciri Kalimat Baku

Kalimat baku adalah kalimat yang memenuhi syarat kaidah berbahasa Indonesia. Di bawah ini adalah beberapa syarat yang harus dipenuhi suatu kalimat agar menjadi kalimat baku. Syarat ini juga merupakan ciri mutlak yang harus ada pada kalimat baku. Penjabarannya adalah sebagai berikut :

1. Logis

Kalimat baku haruslah dapat diterima dengan akal sehat. Walaupun sebuah kalimat tersebut seringkali digunakan dalam kehidupan sehari-hari, namun jika tidak memenuhi syarat kelogisan kalimat baku, maka kalimat tersebut bukanlah kalimat baku. Contoh :

– Bagi yang membawa rokok harap dibuang sekarang juga sebelum ada yang memeriksa nanti!

Walaupun kalimat di atas dinilai sangat komunikatif, kalimat tersebut tidaklah logis. Dilihat dari struktur penyampaiannya, maka dapat ditafsikan sebagai perintah seseorang untuk membuang orang yang membawa rokok. Kesalahan penafsiran ini mungkin saja terjadi jika hal tersebut disampaikan diluar konteks. Seharusnya kalimatnya menjadi seperti berikut ini :

– Bagi yang membawa rokok harap membuangnya sekarang, sebelum ada petugas yang akan memeriksa barang bawaan anda!

2. Hemat

Kalimat baku selalu menggunakan kata yang efektif dan tidak melakukan pemborosan kata di dalamnya.

Contoh :

– Masakan ibumu sungguh enak sekali. (tidak efektif / tidak baku)

Kalimat di atas menggunakan kata yang berlebihan sehingga menjadikan kalimat tersebut tidak efektif. Kalimat di atas akan menjadi hemat (efektif) jika hanya menggunakan salah satu dari kata “sungguh” atau “sekali.” Perhatikan dua contoh kalimat berikut :

Masakan ibumu sungguh enak. (efektif / baku)
Masakan ibumu enak sekali. (efektif / baku)

– Pemandangan di desa ini sangat indah sekali. (kalimat tidak baku)

Pemandangan di desa ini indah sekali. (kalimat baku)
Pemandangan di desa ini sangat indah. (kalimat baku)

3. Padu

Kalimat baku adalah kalimat yang memiliki kepaduan antar unsur kalimatnya.

Contoh :

– Dari temuan yang didapatkan selanjutnya dapat disimpulkan bahwa melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar akan berdampak buruk bagi perekonomian Indonesia.

Kalimat di atas tidak memenuhi unsur penyusun kalimat secara utuh yang ditunjukkan dengan tidak adanya unsur subyek di dalamnya. Kalimat di atas akan menjadi baku jika diubah menjadi :

“nilai tukar rupiah terhadap dolar akan berdampak buruk bagi perekonomian Indonesia.”

4. Kesesuaian Struktur

Kalimat baku memiliki kesesuaian struktur yang tidak menimbulkan makna rancu.

Contoh :

– Ayah mebelikan tas adik.
Maksud dari kalimat di atas adalah ayah membelikan tas untuk adik. Akan tetapi kaliamt di atas sangat rancu sehingga tak dapat ditafsirkan demikian. Seharusnya kalimat di atas adalah sebagai berikut :

“Ayah membelikan tas untuk adik.”