Berikut Penjelasan Semiotika, Ciri-cirinya

Pada artikel kali ini kang darus akan membahas tentang Penjelasan Semiotika, Ciri-cirinya

Berikut 10 Jenis-Jenis Semiotika antara lain sebagai berikut;
1. Semiotika Komunikasi
2. Semiotika signifikasi
3. Semiotik deskriptif
4. Semiotik kultural
5. Semiotik natural
6. Semiotik sosial
7. Semiotik analitik
8. Semiotik faunal (Zoo Semiotik)
9. Semiotik naratif
10. Semiotik normatif

Sejarah Semiotika

Semiotika memiliki dua bapak besar yang berpengaruh besar, yaitu Fredinand de Saussure dan Charles Sander Peirce. Keduanya mengembangkan ilmu semiotika secara terpisah dan tidak memiliki hubungan bahkan mengenal satu sama lain. Saussure mengembangkan semiotika di Eropa dan Pierce berkewarganegaraan Amerika Serikat (US). Bagi Saussure semiotika atau semiosis adalah sebuah ilmu umum tentang tanda, suatu ilmu yang mengkaji kehidupan tanda-tanda di dalam masyarakat. Sedangkan Peirce mengartikan semiotika tidak lain adalah sebuah nama lain dari logika, yaitu doktrin formal tentang tanda-tanda.

Semiotika merupakan suatu cabang ilmu filsafat yang semula berkembang dalam bidang bahasa, kemudian dalam perkembangannya ikut merambahi bidang seni juga. Perkembangan semiotika kemudian membedakan dua jenis semiotika, yakni semiotika komunikasi dan semiotika signifikasi. Semiotika komunikasi menekankan pada teori produksi tanda yang salah satunya mengasumsikan adanya enam faktor dalam komunikasi, yaitu:

  1. Pengirim
  2. Penerima
  3. Kode
  4. Pesan
  5. Saluran komunikasi
  6. Acuan

Sejarah Semiotika

Sedangkan semiotika signifikasi memberikan tekanan pada teori tanda dan pemahamannya dalam suatu konteks tertentu. Pada jenis yang kedua ini tidak dibicarakan adanya tujuan berkomunikasi. Sebaliknya yang diutamakan adalah segi pemahaman suatu tanda sehingga proses kognisinya lebih diperhatikan dari pada komunikasinya. Semiotika merupakan suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda.

Pengertian Semiotika

Semiotika adalah ilmu yang mengkaji tentang tanda. Semiotika diambil dari kata bahasa yunani: semeion, yang berarti tanda. Tanda adalah sesuatu yang mewakili sesuatu; metafora. Proses mewakili itu terjadi pada saat tanda itu ditafsirkan hubungannya dengan yang diwakilinya, bisa berupa bentuk atau warna dalam karya senirupa. Proses tersebut disebut semiosis, Semiosis adalah suatu proses dimana suatu tanda berfungsi sebagai perwakilan dari apa yang ditandainya. Hal yang menjadi fokus dalam kajian semiotika disini adalah semiosis itu sendiri, yaitu proses yang memadukan entitas yang disebut sebagai representasi dari entitas yang diwakili tersebut yang disebut objek. Proses semiosis sering disebut  sebagai signifikansi/signification.

Seperti yang diperlihatkan pada gambar skema diatas, proses semiosis menghasilkan rangkaian hubungan yang tak terbatas, maka pada saatnya interpretan akan menjadi representamen, kembali ke interpretan dan representamen, begitu sampai seterusnya.

Peirce seperti yang dikutip oleh Noth (Hoed, 1992: 3) berpendapat bahwa “triple connection of sign, thing signified, cognition produced in the mind”.  Dihalaman yang sama Peirce juga mengatakan bahwa “Nothing is a sign unless it is interpreted as a sign”. Tampak sekali bahwa semiotika itu merupakan semiosis atau proses karena mencakup tiga unsur yang bersamaan, yaitu tanda. Hal yang diwakilinya (objek) dan interpretan adalah kondisi yang terjadi pada pikiran seseorang ketika menangkap tanda itu. Ketiga unsur tersebut memiliki hubungan dengan tanda karena ada kemiripan, lalu kedekatan eksistensi dan terbentuk secara konvensional.

Cara Membedakan Tanda

Berdasarkan penjelasan diatas, dapat kita simpulkan bahwa tanda memiliki bermacam kategori juga sisi/perspektif yang beragam. Lalu bagaimana caranya agar kita tahu bahwa sesuatu yang kita lihat/alami adalah sebuah tanda? Utamanya hal ini berlaku pada karya seni murni, yang biasanya memiliki ambiguitas dan tidak mempunyai kejelasan yang cukup untuk mudah dimengerti.

Peirce menekankan adanya tiga sifat dasar atau ground tanda yaitu:

  1. Qulisign/tanda kualitas (dari quality dan sign)adalah sesuatu yang dianggap sebagai tanda erdasarkan suatu sifat, misalnya merah atau sebagai sebuah sifat yang berdiri sendiri sebelum dikaitkan dengan sesuatu yang lain (sebelum mewakili sesuatu yang lain selain warna).
  2. Sinsign/tanda tunggal, (dari singular dan sign), Sinsign adalah sesuatu yang dianggap tanda atas dasar tampilannya dalam kenyataan, contohnya asap sebagai tanda untuk api. Tanda akan selalu memiliki kendaraan yang berbentuk fakta eksistensial; Hubungan kausal antara api dan asap memungkinkan asap berfungsi sebagai penanda dari api. Intinya setiap tanda akan menggunakan kendaraan berdasarkan koneksi eksistensial dengan objeknya.
  3. Legisign/tanda hukum/aturan (dari legal dan sign), adalah sesuatu akan dianggap tanda berdasarkan peraturan yang berlaku umum, baik secara hukum dibuat atau secara tidak sengaja terbentuk dengan sendirinya dalam kultur.

Semiotika Visual

Semiotika visual atau visual semiotics adalah salah satu bidang studi yang secara khusus mempelajari penyelidikan terhadap segala jenis makna yang disampaikan melalui sarana indra pengelihatan/Visual senses. Dari pengertian tersebut sudah jelas bahwa semiotika dapat mengkaji seni rupa. Namun seperti yang telah dikatakan sebelumnya, semiotika memilki banyak mazhab/aliran. Karena itu seseorang yang akan menggunakan semiotika untuk mengamati karya seni rupa harus terlebih dahulu menentukan semiotika apa yang digunakan.

Semiotika Peirce, terutama dalam konsep trikotomi ikon-indeks-simbol telah sering digunakan untuk menganalisis seni rupa dan desain. Ikon adalah tanda yang mengandung kemiripan rupa/resemblancesebagaimana dapat dikenali oleh para pemakainya. Dalam ikon hubungan antara representamen dan objeknya terwujud sebagai kesamaan dalam beberapa kualitas. Sebelumnya kita telah membahas ini, tapi ada hal penting yang harus dimengerti agar dapat lebih memahami tentang trikotomi itu.

Indeks adalah tanda yang memiliki keterkaitan fenomenal atau eksistensial diantara representamen dan objek. Dalam indeks hubungan antara tanda dan objeknya bersifat kongkret, aktual, dan biasanya memiliki suatu cara yang sekuensal atau kausal. Simbol yaitu jenis tanda yang bersifat arbiter dan konvensional. Dengan kata lain, simbol adalah tanda yang berhubungan dengan objeknya dan ditentukan oleh sebuah peraturan yang berlaku umum, Budiman (2003: 32). Sebuah tanda atau representamen adalah sesuatu yang bagi seseorang mewakili sesuatu yang lain dalam beberapa hal atau kapasitas dan konteks tertentu. Sesuatu yang lain itu dinamakan sebagai interpretan dari tanda yang pertama yang pada gilirannya mengacu pada objek. Dengan demikian tanda atau representamen meiliki relasi triadic langsung dengan interpretan dan objeknya.

Maka dari sudut pandang triadik/trikotomi tersebut, sebuah tanda tidak selalu hanya mengandung salah satu dari ketiga unsur tersebut: ikon, indeks dan simbol, bisa jadi sebuah tanda mengandung dua atau tiga aspek dari trikotomi itu. Berbeda dalam proses analisis, ketiga tanda tersebut harus dibahas dengan cara yang lebih dinamis.

Cabang Semiotika Menurut Charles Morris

Sementara itu  Charles Morris seorang filsuf yang ikut serta dalam ilmu tentang tanda-tanda membedakan semiotika dalam tiga cabang penelitian, yakitu: sintaksis, semantik dan pragmatik

  1. Sintaksis/syntax atau sintaktik/syntactics adalah cabang penyelidikan semiotika yang mengkaji hubungan formal diantara satu tanda dengan tanda-tanda yang lain. Dengan kata lain, karena hubungan-hubungan formal ini merupakan kaidah-kaidah yang mengendalikan turunan dan interpretasi.
  2. Semantik (semantics) adalah penyelidikan semiotika yang mempelajari hubungan diantara tanda-tanda dengan designate atau objek-objek yang diacunya. Designata bagi Morris adalah makna tanda-tanda sebelum digunakan di dalam tuturan tertentu.
  3. Pragmatik/pragmatics adalah cabang penyelidikan semiotika yang mengkaji hubungan antara tanda-tanda dengan interpreter-interpreter atau para pemakainya. Pragmatik secara khusus berurusan dengan aspek-aspek komunikasi, khususnya fungsi-fungsi situasional yang melatari tuturan.

Norman Bryson, seorang semiotik strukturalis mengembangkan semiotika visual yang didalamnya terdapat perbedaan antara kata dan gambar. Sebagian besar karya seni rupa memiliki gambar dibandingkan teks, tetapi bisa saja memiliki keduanya. Maka kebiasaan menghubungkan teks dan gambar dengan arti lain adalah membaca teks yang mempengaruhi pemahaman kita tentang gambar, sehingga makna kata dan makna gambar saling memotong. Meskipun begitu, perlawanan dua kata ini bukanlah satu-satunya yang dapat digunakan.

Bryson sendiri menggunakan perlawanan dua kata ini untuk mencermati lukisan. Ia mengatakan bahwa lukisan adalah sebuah karya seni rupa yang tidak hanya terbuat dari pigmen-pigmen cat di atas permukaan, tetapi terbentuk juga oleh tanda-tanda dalam ruang semantik. Makna sebuah gambar tidak pernah terwujud pada permukaan berupa sapuan-sapuan kuas; lebih jauh dia mengatakan makna akan muncul lewat kolaborasi antara tanda-tanda (visual dan verbal) dan para penafsirnya. Perlawanan dua kata ini juga dapat digunakan untuk membahas karya-karya zaman sekarang (Sumartono, 2003: 7).

Tujuan Semiotika

Karya seni adalah produk yang berkomunikasi melalui tanda-tanda yang secara otomatis memiliki berbagai arti untuk penyerap tandanya. Makna dan interpretasi/tafsiran yang dihasilkan oleh tanda tersebut dapat berubah sesuai dengan konteks sosial dan waktu/zaman pada saat tanda itu ditafsirkan oleh seseorang. Malah bisa jadi tanda tersebut tidak berarti apa-apa untuk pemirsanya. Karya seni adalah produk yang terbuka, setiap orang berhak memahami dengan keputusannya sendiri. Disini dapat dirumuskan bahwa terdapat masalah yang muncul ketika kita mempelajari suatu karya seni. Bagaimana caranya kita dapat memastikan bahwa apa yang disampaikan oleh karya tersebut sudah sesuai/akurat?

Seperti yang dijelaskan oleh Karen Hamblen yang dikutip oleh Albert Camus, keyakinan akan adanya kemungkinan komunikasi universal melalui seni telah menghasilkan berbagai kesulitan. Kehidupan postmodern tidak percaya seseorang dapat mengkonsumsi suatu karya tanpa memahami terlebih dahulu konteks dari karya tersebut berasal dan kapan dibuat. Kritikus postmodern juga meyakini bahwa kita tidak dapat memahami karya seni suatu masyarakat, jika tidak memiliki informasi antropologis tentang karya tersebut.

Disinilah peran semiotika sangat penting untuk digunakan agar berbagai tanda tersebut dapat dipecahkan dengan baik. Melalui pendekatan semiotik kita dapat menelaah lebih detail tentang komunikasi yang disampaikan oleh karya seni. Melalui semiotika kita dapat mengkaji tanda, ‘kendaraan’ yang ditumpangi oleh tanda dan makna dari tanda itu sendiri dalam konteks sosio-kultural masyarakat dimana ia dihasilkan. Dengan catatan bukan berarti dapat menggantikan kajian interdisiplin seni dengan bidang studi lain, tapi melengkapi.

Pendekatan Semiotika dalam Analisis Seni Rupa

Perkembangan postmodernisme menuntut pengkajian tentang artikulasi makna dan ideologi di dalam karya-karya seni harus dirumuskan kembali. Pencarian makna dalam kebudayaan postmodern pada kenyataanya tidak hanya menghadapkan para pemikir kepada masalah metodologis, tapi juga epistemologis. Pada tingkat epistemologis muncul sebuah kegundahan tentang teori estetika atau semiotika yang mampu menjelaskan cakupan, metode dan keabsahan pengetahuan yang digunakan dalam praktik postmodernisme sebagai landasan atau model dalam penciptaan dan penafsiran karya. Pada tingkat metodologis ini muncul tuduhan-tuduhan akan praktik seni postmodern yang dianggap irasional, antimetodologi dan antiestetikanamun ironisnya justru semua nilai-nilai rasional, metodologis dan estetika inilah yang ingin didekonstruksi dan dievaluasi oleh postmodernisme (Pialang, 2003: 170). Lalu ditengah kegundahan, keraguan dan ironi tersebut bagaimankah semiotika memahami objek-objek kebudayaan postmodern dalam karya seni rupa?

Kesimpulan

Tanda yang terdapat dalam sebuah karya seni rupa bersifat abstrak dan dapat dianalisis secara terperinci atas dasar bentuk yang tampak, baik itu teks maupun objek/bahasa yang lainnya.  Teks dalam sebuah karya seni rupa dapat menjadi wacana dan terkadang teks itu sendiri adalah bentuk utama dari karya itu sendiri. Sehingga semiotika dapat digunakan utuk menganalisa karya seni rupa dengan lebih dalam baik untuk kepentingan akademik, maupun seniman yang ingin mengeksplorasi dan mencari inspirasi dari karya yang telah berhasil sebelumnya.