Soal Uji kompentensi keperawatan gerontik Beserta Pembahasannya

Gerontology berasal dari bahasa Yunani Geron, yang berarti orang berusia tua, gerontik adalah studi ilmiah dari proses penuaan dan masalah pada orang tua, juga mencakup aspek biologis, sosiologis, psikologis, dan ekonomi.

Berikut ini Soal Essay 1-10 Beserta Jawaban dan Pembahasannya.

1. seorang laki-laki berusia 70 Tahun dirawat diruang penyakit dalam sejak 2 hari lalu klien mengeluhkan sesak, pada saat dilakukan pengkajian RR 34 X/menit, nadi 100X/Mnt, tensi 140/90 mmHg, batuk produktif, sputum di hidung, auskultasi suara nafas ronchi.diagnosa keperawata yang diangkat bersihan jalan nafas tidak efektif.
Apakah intervensi dari kasus diatas?
a. Terapi o2
b. Catat pergerakan dinding dada
c. Dorong klien untuk bernafas pelan
d. Keluarkan secret dengan batuk efektif
e. Monitor kecepatan dan kedalaman respirasi
pembahsan :
salah satu intervensi yang paling tepat pada diagnose bersihan jalan nafas tidak efektif adalah batuk efektif. Batuk efektif merupakan suatu metode batuk dengan benar, dimana klien dapat menghemat energi sehingga tidak mudah lelah dan dapat mengeluarkan dahak secara maksimal.

2. Seorang laki-laki yang berusia 78 tahun di panti werda sudah 2 tahun yang ditempatkan diruang isolasi.klien mengeluhkan nyeri pada luka di punggung bagian bawah pada saat pengkajian di pungggung ada luka dengan diameter 10 cm. kondisi tubuh lemah, bau badan, kulit kusam, rambut kotor, bau mulut, kuku panjang. pakaian tidak rapi, dan tidak ganti 2 hari. Makan dibantu oleh teman dekatnya yang masih bisa beraktivitas, untuk BAB Dan BAK dilakukan ditempat tidur. hasil indeks Katz skornya 3 ketergantungan Total, Hasil pengkajian Mini Mental State Exam 20 kerusakan mental berat, Risiko jatuh 9 yaitu risiko jatuh Sedang.
apakah diagnosa keperawatan yang muncul dari kasus diatas?
a. Intoleransi aktifitas
b. Deficit perawtan diri makan
c. Deficit perawatan diri mandi
d. Deficit perawatan diri eliminasi
e. Deficit perawatan diri berpakaian

pembahsan :
Rasional : kondisi tubuh lemah, bau badan, kulit kusam, rambut kotor, bau mulut, kuku panjang. pakaian tidak rapi, dan tidak ganti 2 hari BAB Dan BAK dilakukan ditempat tidur.

3. Seorang perempuan berusia 75 tahun tinggal di Panti Werdha sejak 2 tahun yang lalu, mengeluh tidak dapat mendengar dengan jelas pada kedua telinga, pasien mengatakan malu betemu dengan sesama penghuni panti karena takut menyinggung perasaan, pasien sering bicara dengan suara yang keras dan hasil test Rinne Negatif.
Manakah Pendekatan bawah ini yang paling baik utuk memfasilitasi komunikasi pada kasus diatas?
a. Berhadapan ,berbicara lebih keras
b. Berbicara langsung pada telinga pasien
c. Berhadapan, berbicara pelan dengan volume biasa
d. Berbicara langsung pada telinga pasien lebih keras
e. Berbicara dengan berulang-ulang di belakang telinga pasien
pembahsan :
prinsip dalam berkomunikasi harus berhadapan, berbicara pelan agar tidak menyinggung klien

4. Seorang laki-laki usia 60 tahun tinggal di Panti Tresna Wreda sejak 2 tahun yang lalu. klien memerlukan bantuan minimal dalam tindakan keperawatan dan pengobatan. Klien mampu melakukan aktivitas perawatan diri sendiri secara mandiri, hanya sesekali memerlukan bantuan petugas kesehatan
Apakah Kategori keperawatan klien menurut Swanburg dari kasus diatas ?
A. Self-care
B. Minimal care
C. Intensive care
D. Intermediate care
E. Mothfied intensive care
Pembahsan :
Kategori keperawatan klien menurut Swanburg (1999) terdiri dari :
1. Self-care
Klien memerlukan bantuan minimal dalam melakukan tindak keperawatan dan pengobatan. Klien melakukan aktivitas perawatan diri sendiri secara mandiri. Biasanya dibutuhkan waktu 1-2 jam dengan waktu rata-rata efektif 1,5 jam/24 jam.
2. Minimal care
Klien memerlukan bantuan sebagian dalam tindak keperawatan dan pengobatan tertentu, misalnya pemberian obat intravena, dan mengatur posisi. Biasanya dibutuhkan waktu 3-4 jam dengan waktu rata-rata efektif 3,5 jam/24 jam.
3. Intermediate care
Klien biasanya membutuhkan waktu 5-6 jam dengan waktu rata-rata efektif 5,5 jam/24 jam.
4. Mothfied intensive care
Klien biasanya membutuhkan waktu 7-8 jam dengan waktu rata-rata efektif 7,5 jam/24 jam.
5. Intensive care
Klien biasanya membutuhkan 10-14 jam dengan waktu rata-rata efektif 12 jam/24 jam.

5. Seorang laki-laki dengan usia 65 tahun di rawat di rumah skait hari ke 3 menegluh lemas, pusing di sertai sering kencing dan haus. Hasil pemeriksaan fisik yaitu : kesadaran lethargis, badan tampak kurus, kulit prulitus. Hasil pemeriksaan TTV yaitu : TD 100/60 mmhg, N 80x/menit, RR 19X/menit, suhu 36,9O C.
Dari kasus tersebut manakah data spesifik yang menunjukan pasien kemungkinan mengalami DM?
a. Kulit prulitus dan kurus
b. Lethargis dan kulit prulitus
c. Badan kurus
d. Sering kencing dan haus
e. Pusing dan lemas

Pembahsan :
Pada DM terjadi hyperglikemia, terjadi osmotic diuresis sehingga dapat menimbulkan banyak kencing (polyuria) dan keinginan minum/merasa haus (polidipsi)

6. Seorang klien usia 59 tahun dirawat karena stroke.Mengalami tetraparase, terdapat luka tekan dibagian bokong dengan diameter 5 cm. Luka tampak merah dibagian pinggir, agak pucat dibagian tengah.
Manakah intervensi yang paling tepat untuk mencegah pemburukan luka tersebut?
a. Bersihkan, dan rawat luka setiap hari
b. Program miring kiri-kanan-terlentang tiap 2 jam
c. Berikan pengalas lembut dibagian bokong
d. Bersihkan perineal dengan cairan antiseptik setiap BAB
Pembahasan : Stroke berhubugan erat dengan sistem sirkulasi darah, maka posisi tidur dan Kelengkapan yang digunakan menjadi hal yang penting untuk diketahui. Sebaiknya pasien. Menggunakan tempat tidur yang lebih padat atau hindari penggunaan kasur yang terlalu empuk demikian juga dengan bantal, karena penggunaan kasur serta bantal yang terlalu empuk akan mempengaruhi peredaran darah pasien. Umumnya pasien paska stroke akan mengalami kondisi imobilisasi atau kurang gerak karena menurunnya kemampuan fungsional pasien/klien. Dengan adanya kurang gerak tersebut, maka beberapa komplikasi yang dimungkinkan terjadi seperti pembentukan bekuan darah, pnemonia, kontraktur otot, keterbatasan gerak sendi. Untuk mencegah komplikasi tersebut maka pasien perlu untuk diposisikan atau reposisikan saat diatas tempat tidur. Adapun prosedur yang sebaiknya dilakukan adalah:
• Pastiakan bahwa pasien memiliki kasur yang sesuai.
• Lakukan mobilisasi (membalikkan) dari satu sisi kesisi yang lainya setiap 2 jam sekali sepanjang siang dan malam.
• Ubahlah posisi lengan setiap 2 jam sekali sepanjang siang dan malam hari.

7. Seorang laki-laki 58 tahun dibawa ke rumah sakit setelah mengalami nyeri dada di sebelah kiri yang menjalar ke bahu kiri, dan neri punggung. Dari pengkajian fisik didapatkan data: bibir,dan ujung ujung jari sianosis. Setelah dilakukan pemeriksaan didapatkan peningkatan enzim jantung, dan hasil EKG menggambarkan adanya STelevasi di Lead II, III, dan VF.
Apakah masalah keperawatan prioritas yang terjadi pada pasien?

a. Nyeri
b. Intoleransi aktivitas
c. Perfusi jaringan perifier tidak efektif
d. Penurunan cardiac output
Pembahasan : Intoleransi aktivitas adalah penurunan kapasitas fisiologis seseorang untuk
mempertahankan aktivitas sampai ketingkat yang diinginkan atau diperlikan. Batasan karakteristik intoleransi aktivitas:
• Ketidaknyamanan atau dispenea saat beraktivitas
• Frekuensi jantung atau tekanan darah tidak normal sebagai respon dari aktivitas
• Perubahan EKG yang menunjukan aritmia atau iskemia

8. Ny. W umur 55 tahun dirawat dengan diagnosa Diabetes Melitus (DM).Terrdapat gangren pedis,keadaan luka kotor banyak jaringan nekrotik, pus, panjang 10 cm, lebar 5 cm, dan kedalaman 1,5 cm. Menurut keluarganya, dia tidak pernah kontrol ke rumah sakit sejak dinyatakan DM, dan memilih pengobatan tradisional.
Berdasarkan data di atas, perlambatan proses penyembuhan disebabkan oleh?
a. Usia klien
b. Besarnya luka
c. Pengobatan tradisional
d. DM yang tidak terkontrol
Pembahasan : Diabetes yang tidak terkontrol dan tidak segera mendapatkan penanganan medis dapat menyebabkan perlambatan penyembuhan, komplikasi bahkan kematian bagi penderita DM. Karena diabetes militus termasuk penyakit kronis sehingga harus cepat diketahui gejala-gejalanya agar cepat dapat mendapatkan penanganan yang tepat dan akurat.

9. Ny. Sarmi (64 tahun) dirawat di ruang penyakit dalam dengan diagnosa medis Gout. Ny. Sarmi megeluh nyeri pada sendi terutama kaki dengan skala 6, terasa nyeri terutama malam hari. Hasil pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 130/80 mmHg, nadi 83 x/menit, frekuensi napas x/menit, suhu 37,5oC, tampak adanya pembengkakan pada persendian karpal kaki, dan kemerah merahan dengan palpasi terdapat nyeri tekan, dan klien meringis kesakitan. Dari pengkajian diatas data yang merupakan tanda khas dari gout yaitu:
a. Ekspresi wajah meringis
b. Skala nyeri 6
c. Nyeri malam hari
d. Bengkak pada sendi
Pembahasan : Penyakit asam urat atau gout adalah kondisi yang dapat menyebabkan gejala nyeri yang tidak tertahankan, pembengkakan, dan rasa panas di persendian. Meski semua sendi tubuh bisa terkena asam urat, namun yang paling sering terserang adalah sendi jari tangan, lutut, pergelangan kaki, dan jari kaki, ppembengkakan sendi umumnya terjadi secara asimetris (satu sisi tubuh).

10. Seorang kepala keluarga umur 60 tahun, tinggal bersama cucunya yang berusia 5 tahun. Klien mengeluh batuk, berkeringat pada malam hari, nafsu makan berkurang, dan sesak. Klien pernah memeriksakan diri ke puskesmas dan didiagnosa menderita penyakit TB. Hasil pengkajian diketahui klien pernah tidak mengkonsumsi obat yang diberikan selama 1 minggu, BB 50 kg, TB 170 cm.
Apakah intervensi keperawatan yang dapat diberikan perawat kepada keluarga klien?
a. Menganjurkan untuk menjemur alas tidur di bawah sinar matahari.
b. Menyampaikan klien untuk membuka jendela setiap pagi.
c. Merujuk klien ke pusat pelayanan kesehatan setempat.
d. Menunjukpengawas minum obat.
e. Memberikan makanan tambahan.

Pembasan : merujuk ke pusat pelayanan kesehatan setempat merupakan tindakan paling tepat pada kasus ini, dimana klien memiliki riwayat TB dan sedang menjalani pengobatan namun obat tak pernah lagi dikonsumsi selama seminggu terkahir. Hal ini membutuhkan penanganan lebih lanjut di rumah sakit atau puskesmas.