Pengertian Phototropism Secara jelas

Phototropism adalah gerakan kelengkungan yang dilakukan tanaman sebagai respons terhadap cahaya. Pertumbuhan tanaman diamati sebagai respons terhadap stimulus, yang dalam hal ini merupakan sumber cahaya. Pentingnya pertumbuhan ini terletak pada kenyataan bahwa cahaya sangat penting untuk beberapa proses yang dilakukan oleh tanaman, seperti kinerja fotosintesis dan pembungaan.

Tumbuhan bersifat sessile, artinya mereka tidak dapat bergerak untuk mendapatkan apa yang mereka butuhkan, sehingga untuk memaksimalkan jumlah cahaya yang mereka terima melalui daun, mereka menggunakan fototropisme,

Fototropisme positif adalah respons tanaman terhadap sumber cahaya, sementara fototropisme negatif (juga disebut “afototropisme”) menyebabkan pertumbuhan ke arah yang berlawanan. Akar tanaman biasanya menggunakan fototropisme negatif meskipun mereka juga menggunakan “gravitropisme”, yang merupakan respons terhadap tarikan gravitasi.

Cara Kerja Fototropisme

Tanaman pertama merasakan cahaya menggunakan fotoreseptor. Fotoreseptor adalah molekul khusus yang terdiri dari protein dan pigmen yang menyerap cahaya yang disebut kromofor. Ketika cahaya diserap oleh kromofor, protein berubah bentuk, memulai jalur pensinyalan. Tanaman menggunakan jalur sinyal untuk memulai proses seperti ekspresi gen, produksi hormon dan pertumbuhan. Fotoreseptor spesifik yang bertanggung jawab untuk mendeteksi cahaya selama fototropisme disebut fototropin.

Pada tahun 1880, Charles Darwin dan putranya, Frances, menemukan bahwa bibit dengan ujung selubung yang disebut coleoptile tertutup tidak bereaksi terhadap cahaya, sedangkan yang bagian bawah coleoptile tertutup. Dari sini mereka berteori bahwa aktivitas penginderaan cahaya terjadi di dalam ujung tanaman.

Tumbuhan mengandung hormon yang disebut auksin, yang mengkoordinasikan banyak pertumbuhan dan proses perilaku sepanjang siklus hidup mereka. Auksin ini yang bertanggung jawab untuk kelengkungan batang, memungkinkan tanaman tumbuh ke arah tertentu. Ketika fototropin diaktifkan oleh sumber cahaya, auksin didistribusikan kembali ke koleoptil dan ke arah batang di mana fototropin kurang aktif – sisi yang diarsir.

Auksin mengaktifkan pompa proton, yang menurunkan pH sel, membuatnya lebih asam. Asidifikasi ini mengaktifkan enzim yang disebut expansin, yang menyebabkan dinding sel menjadi lebih fleksibel dengan memecah ikatan hidrogen. Ketika dinding sel kurang kaku, dinding sel dapat tumbuh lebih besar dan lebih cepat dari biasanya.

Ukuran sel yang lebih besar pada ukuran yang diarsir menyebabkan asimetri ukuran sel di dalam batang, dan dengan demikian, batang menekuk ke arah cahaya.

Eksperimen untuk mengamati fototropisme

Cukup sederhana untuk mengamati bagaimana fototropisme terjadi. Untuk melakukan ini, cukup tanam benih dan letakkan di dalam kotak dengan hanya satu pintu masuk untuk kecerahan. Anda akan melihat bahwa pertumbuhan akan diarahkan ke tempat cahaya masuk.

Contoh Fototropisme

Bunga Matahari

Contoh tanaman yang sangat fototropik adalah bunga matahari (Helianthus annus). Tidak hanya bunga matahari yang tumbuh ke arah matahari, mereka dapat dilihat untuk melacak pergerakan matahari dari Timur ke Barat sepanjang hari. Pada malam hari, kepala bergerak kembali dari Barat ke Timur untuk mengantisipasi terbitnya matahari di hari berikutnya.

Para ilmuwan telah menemukan bahwa bunga matahari membutuhkan lebih banyak cahaya untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup, serta berbuah, dan berbunga, daripada kebanyakan tanaman berbunga lainnya. Temuan ini merupakan alasan yang mungkin untuk kegiatan pelacakan matahari harian.

Cendawan Pilobolus

Jamur dalam genus Pilobolus adalah pengumpan saprobik, yang berarti mereka makan dari bahan organik yang tidak hidup atau membusuk. Dalam kasus spesies Pilobolus crystallinus (umumnya dikenal sebagai “cendawan koprofil”), mereka bertahan hidup dengan memakan kotoran herbivora yang merumput.

Untuk mendapatkan akses ke kotoran, P. crystallinus menggunakan teknik propulsi eksplosif, dimana spora ditembak dari sporangiofor ke udara dan menempel ke tetumbuhan. Ketika hewan pemakan memakan tetumbuhan, spora melewati sistem pencernaan hewan dan berakhir di kotoran mereka